Gue kan aparat!

Tadi siang sempat naik bis DAMRI dari bandara Soekarno-Hatta ke arah Blok M, lagi-lagi kejadian seperti di bawah ini terjadi di bis. Saya yakin masih banyak “aparat”, ya oklah oknum aparat yang berlaku seperti yang digambarkan di bawah. Pasti teman-teman sekalian pernah juga menyaksikan hal serupa.

Iklan

13 Komentar

  1. Saya jadi teringat beberapa tahun yang lalu
    WAktu itu seorang laki-laki tegap (LLT) berpakaian biasa ikut bergelantungan di bis kota. Seperti biasa knek langsung menagih ongkosnya. LLT diam saja, sehingga knek sampai menagih beberapa kali, LLT tetap diam. Tapi dari wajahnya terlihat LLT marah dan dongkol sehingga akhirnya sang knek diam dan berlalu. Sewaktu lewat di depan asrama TNI-AD, LLT berteriak minta sopir bis untuk berhenti di situ, walaupun ada rambu untuk berhenti. Sang LLT turun dan plak……..plek……..pluk………Tanpa aba-aba langsung menampar knek dan…………………………KAMU TIDAK TAHU, SAYA SIAPA?????? sambil menunjuk ke asrama TNI tsb.???????????????????????????????????????

  2. Tuh kan… 🙂 pasti banyak lagi cerita sejenis. Pengamatanku sejak era reformasi ada memang sedikit berkurang oknum yang seperti ini. Namun masih banyak (setidaknya pengamatanku di beberapa kota atau daerah)

    Para oknum ini datang dari level atau pangkat rendahan saja dan cuma ngemplang ongkos beberpa ribu rupiah saja, tapi coba bayangkan makin ke atas pangkatnya dan di “ruang-ruang” lainnya. Ngeri…. 😦

  3. huh, kalo aku jadi kondektur, tak towel-towel. sok-sokan dia.

  4. Ho ho ho…

    Emang aparat boleh dapat gratis ya?

    • Klo aprt grtis donx,klo ngk ada aprt bis mu ngk bs jln bung.

  5. Bagaiimana jika : aparat bisa gratis asal dia memberikan tiket pula. Tiket itu bisa dia ambil dari instansinya masing-masing dengan cara membayar 30% dipotong dari gajinya, atau gratis krn instansi akan bayar 100%.

    Yang penting bis itu bisa menguangkan tiket itu ke instansi/negara.

    Sistem ini aku rasa cukup kompromi di kedua belah pihak. Paling tidak aparat/negara menghormati rakyatnya yang masih mo kerja keras.

  6. Wow… ide yang bagus, boleh juga tuh…. dan mungkin bisa juga dikenakan tarif khusus seperti tarif anak sekolah ? Ya, hanya buat yang pangkat terendah saja. Kita juga tau gaji yg mereka dapat (yg pangkat rendah) kecil sekali.

    Salam kenal Mbak… thanks sudah corat-coret di sini 🙂

  7. Cerita sikit,
    Waktu saya masih naek kereta jurusan Kota-Bekasi, saat itu masih siang sekitar jam 3 an, saya kebetulan satu gerbong dengan ‘Aparat Berseragam’, ibu-ibu berserta seorang anak kecil ( mungkin anaknya). Seperti biasa kondektur keliling periksa tiket. Dan apa yang terjadi, ibu2 tersebut dilewati begitu saja oleh sang kondektur, sianak kecil bertanya ” Bu kenapa kok kita ga di tanya tiket??”. Apa jawaban si ibu Aparat??? “Eh bapak itu kan teman kita, jadi kita ga usah beli tiket….”. Gubraxxxxx, :(*&^%$#

    Seperti itu kah aparat kita, padahal kita setengah mati cari harga untuk beli tiket.

    Makasih coretan pinggir.

  8. jd merinding baca cerita tmn2 semua.. apa semua aparat sifatnya kyk keparat semua gitu ya.. ga takut disumpahin apa ya… ah endonesia endonesia…

  9. nggak semua aparat kok 🙂 klo saya rasa itu cuma penyakit besar kepala (sombong) yang di akibat kan oleh jabatan, mungkin ya seperti yg di gambar coretan pinggir “gue kan aparat, yg ngabdi sama negara, n ikut nge jaga keamanan negara”. Padahal klo bisa, semua warga negara juga ikut nge jaga keamanan negara, ehheehe^^. Saya juga pernah ngeliat aparat yg baik, tapi emang minoritas dibanding ‘oknum’2 kaya gini..

  10. wah… ini yang selalu bikin saya sebel. Saya jadi bermimpi, Indonesia itu gak perlu tentara. Apa sih kerja mereka selain abisin anggaran pajak. Liat aja mobil2 mewah berplat tentara mangkal di mal-mal, tempat rekreasi, tempat prostitusi. Mereka sedang tidak bertugas aka berperang kan? Padahal mobil mewah itu kan dibeli dari pajak yang ‘saya’ bayar. Kurang ajar bener aparat-aparat. Aset negara dipake untuk keperluan pribadi… kacau bener…

    Tapi di lain pihak, kasian bener aparat berpangkat kecil. Gaji luar biasa kecil tapi musti berhadapan dengan dunia gila yang dipertontonkan orang yang punya kerjaan, yaitu koman-komandan mereka.

    Aparat.. aparat…

  11. Ada satu lagu di tahun 1998 an…
    “angkatan bersenjata republik…indonesiaaa…
    tidak bergunaaa…
    bubarkan sajaaa…
    diganti menwaaa…
    ya sama sajaaa…
    lebih baik diganti pramukaa….
    NAIK BUSKOTA GA PERNAH BAYAR…
    pikirnya bensin milik negaraaaaa….

    dasar aparat…

    apa karena gaji mereka kecil???
    ga juga…
    hmm….

  12. sama itu mas, ketika saya naek bus jurusan Solo – Wonogiri, aparat2 pada gak bayar., saya juga diuntungkan karena duduk sebelah dgn-nya dan ngobrol dg dia, eee kondekture mengira saya temannya… hehehe..
    tapi kalo di bis jurusan Surabaya-Jogja, APArat tetep mbayar. sebab dah ditulisi : tarif 50% hanya untuk TNI/POLRI berseragam.
    jadi mereka tdk bisa ngelak untk gak bayar.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s